Kamis, 10 November 2011

suku hmong

JEJAK SEJARAH SUKU HMONG (MIAO) TEREKAM MELALUI MOTIF KAIN BORDIR BERSEJARAH










JEJAK SEJARAH SUKU HMONG (MIAO) TEREKAM MELALUI MOTIF KAIN BORDIR BERSEJARAH
(Epochtimes.co.id)
Kain warna-warni dan aksesoris yang berjejer di sepanjang jalan pasar malam di Luang Prabang, yang dikenal sebagai kota suci di negara Laos, terasa seperti melangkah ke jalanan yang penuh dengan cat berwarna-warni. Dan yang terutama menyolok mata adalah kain unik buatan tangan suku Hmong.
Asal sejarah suku Hmong masih belum dapat dipastikan. Bukti awal keberadaan mereka ditemukan sekitar 2700 SM dengan deskripsi dari kehidupan mereka di Tiongkok kuno. Berdasarkan legenda dan cerita rakyat mereka menunjukkan kemungkinan mereka berasal dari Mesopotamia. Dari sana, mereka bermigrasi melalui Rusia, Mongolia, dan akhirnya ke daratan Tiongkok.
Kemudian orang-orang Hmong bergerak menuju daerah pegunungan Tiongkok Selatan, Vietnam, Laos, dan Thailand. Orang Tionghoa sendiri menyebut mereka suku “Miao,” sebuah nama yang diberikan kepada orang-orang yang termasuk kaum imigran minoritas. Sedangkan mereka menyebut diri mereka sendiri “suku dataran tinggi/ highlanders.”
Pada abad ke-19, Hmong menetap di wilayah pegunungan Laos, di mana mereka sebagian besar bekerja sebagai pekerja peternakan untuk orang Tionghoa, kemudian untuk orang Prancis.
Bakat artistik
Meskipun akibat dari banyak migrasi yang mereka lakukan dan pengaruh dari sejumlah negara berbeda, Hmong tetap dapat mempertahankan adat, budaya, dan seni mereka. Mereka selalu menampilkan lagu dan upacara yang sama untuk proses menuju kedewasaan, tetapi selain itu mereka sangat dikenal dengan ketrampilan artistik mereka yang brilian. Penyulam dari suku Hmong biasanya menggunakan simbol-simbol tradisional yang bermakna kosmologis maupun agama, pada masing-masing dan setiap aksesori pada sepotong pakaian.
Di masa kini, perempuan Hmong terus belajar untuk menguasai beberapa teknik baru. Salah satunya adalah teknik tumpang tindih potongan kain. Mereka menggunakan desain geometris, gambar dari alam (misalnya, siput dan gajah), mitologi (naga, labirin, bintang), dan obyek yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari (tiang pancing, roda). Dan beberapa pola masih belum jelas bagi para peneliti hingga saat ini.
Terdapat pula teknik lain yang disebut “batik.” Kain ditenun oleh para perempuan, dengan menggunakan benang yang terbuat dari serat tanaman. Kemudian menggunakan malam untuk menggambar bentuk yang diinginkan. Setelah itu mereka mewarnai kain dengan pewarna yang disiapkan dari bahan tanaman. Langkah terakhir dari proses batik ini adalah menghilangkan malam, sehingga warna latar belakang pilihan mereka dapat keluar. Teknik ini biasanya ditularkan pada para istri, setelah pernikahan, oleh ibu mertuanya.
Menggambar Figuratif
Kehidupan suku Hmong di Laos berubah setelah pendudukan Perancis. Pada awalnya, banyak orang-orang Hmong yang melakukan pemberontakan, tetapi sedikit demi sedikit, mulai terjalin kerja sama antara suku Hmong dan bangsa Perancis, dan akhirnya Hmong dipercaya untuk memegang tanggung jawab dalam Angkatan Darat Perancis dan diberi beberapa status sosial. Dan pada saat itu merupakan saat pertama kalinya bahasa lisan mereka dibuat dalam bentuk tertulis.
Pada 1954, pendudukan Perancis di Indocina telah berakhir, dan perang saudara pecah di Laos antara Loyalis dan Komunis. Pada 1961, Amerika berperang di Perang Vietnam meminta Hmong untuk berperang bersama mereka melawan komunis di kawasan itu.
Setelah perang berakhir, Amerika meninggalkan daerah, dan komunis mengambil alih kekuasaan di Laos. Ribuan orang Hmong menjadi pengungsi di negara mereka sendiri. Beberapa mencoba untuk kembali ke desa mereka, sementara yang lain melarikan diri ke Thailand.
Di Laos, hingga hari ini, para pria Hmong terus dianiaya dan menderita diskriminasi. Sedangkan mereka yang mengungsi ke Thailand, justru terkunci di kamp-kamp pengungsi.
Namun justru di kamp-kamp pengungsi inilah muncul gaya tenunan baru yang figuratif. Para perempuan Hmong menggambarkan kehidupan mereka sebagai pengungsi dalam potongan bordir. Setiap bagian bordir yang dibuat adalah berdasarkan pengalaman pribadi mereka dan ditandai dengan nama sang pembordir.
Melalui cara ini, sejarah kolektif dan budaya Hmong ditularkan melalui cerita dari mulut ke mulut. Pada akhir 1970-an, desainnya yang bersulam spontan, mengikuti kebutuhan untuk mengabadikan kehidupan sehari-hari di kamp-kamp pengungsian, baik berupa pengalaman sulit maupun yang menyenangkan.
Pada 1980-an, pola menjadi lebih rumit dan telah dicairkan pada kain sebelum disulam. Kemudian, link kohesif telah dibuat antara beberapa adegan ilustrasi yang berbeda.
Gaya figuratif dikembangkan di satu sisi dalam rangka melestarikan identitas dan budaya Hmong, dan di sisi lain untuk memberitahu dunia tentang nasib orang-orang Hmong dari Laos.
Dan tentu saja sektor yang paling terangkat oleh budaya Hmong ini adalah: pariwisata. Seni yang diciptakan oleh suku Hmong adalah sumber utama pendapatan mereka, dan melalui seni itu pula, status perempuan Hmong juga mengalami perubahan.
Saat ini, sebagian besar populasi Hmong telah berimigrasi ke Amerika Serikat dan Perancis, tetapi banyak diantara mereka yang juga masih berada di wilayah Laos, masih mengalami kehidupan yang diskriminatif dan dikucilkan oleh masyarakat sekitar.
Menurut Kao-Ly Yang, seorang ahli antropologi dari suku Hmong di situs Komunitas Global Direktori Hmong, “Kita bisa hidup di negara manapun, baik di Timur, Tenggara maupun Barat. Sebutan apa pun yang kita gunakan untuk menyebut diri sendiri, baik ‘Miao,’ ‘Hmong’ (Hmoob), ‘Mong’ (Moob), atau ‘Meo,’ kita semua akan mengingatnya dan menghargai warisan budaya kita bersama, yang terdiri dari sub-budaya dan dialek yang beragam, dan fragmen sejarah bahwa setidaknya suku Hmong telah tercatat dalam sejarah.”  (Maya Mizrahi / The Epoch Times / osc) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar